marquee

WELCOME TO MY BLOG, FRIENDS!

Laman

Selasa, 09 Februari 2021

Gagasan Implementasi Internet of Things (IoT) Dalam Pengelolaan Sampah Domestik Untuk Mengoptimalkan Pemilahan Sampah di Zero Waste Cities

 Sampah Sebagai Sejarah Umat Manusia

Saat ini, para paleoantropolog mempelajari sejarah dunia melalui fosil purba yang telah terabadikan zaman. Beratus tahun yang akan datang, barangkali manusia tidak akan mempelajari sejarah dunia melalui fosil, melainkan melalui sampah-sampah yang tertimbun di strata tanah.

Sama seperti fosil yang menjadi jejak kehidupan lampau, kelak, sampah pun akan menjadi jejak bagaimana manusia saat ini hidup. Manusia di masa depan akan melihat sampah-sampah yang tak terbusukkan zaman menumpuk memenuhi lapisan-lapisan tanah planet ini, dan menceritakan betapa tak bijaknya manusia di abad ke-21 mengelola sisa-sisa aktivitas mereka.

Sampah, baik organik maupun anorganik, memang telah menjadi masalah global umat manusia. Kebanyakan dari sampah itu ditimbun di tempat pembuangan akhir, diabaikan, atau dibakar. Sebagian lain dialirkan dengan semena-mena ke lautan, dengan asumsi, karena lautan mengisi 70% porsi planet ini, maka laut takkan pernah kehabisan ruang (meski pada hakikatnya sampah tersebut merebut ruang hidup biota laut). Apabila kita tidak melaksanakan pengelolaan yang baik, dalam jangka waktu yang lama, sampah tidak hanya akan menggerogoti kesehatan bumi, namun juga akan menjadi ancaman bagi umat manusia sendiri, baik kini maupun di masa yang akan datang.

Upaya Pemilahan Sampah dan Hambatan Sosialnya

Sumber: YPBBBlog (http://ypbbblog.blogspot.com/2020/09/antara-tugas-resiko-upah-dan.html)

Banyak upaya yang telah digalakkan di masyarakat untuk memaksimalkan pengelolaan sampah. Salah satu yang paling sederhana yang juga banyak digaungkan dan diimplementasikan di level terkecil adalah pemilahan sampah. Pemilahan tak hanya mempermudah pemisahan antara sampah yang dapat didaur ulang dan tidak, tetapi juga secara tidak langsung akan membantu menekan volume sampah yang masuk ke TPA (karena sampah organiknya diolah terpisah), dan meminimalisir resiko terbentuknya metana dalam jumlah besar (seperti yang terjadi pada tragedi longsornya gunung sampah di TPA Leuwigajah Cimahi akibat ledakan gas metana di tumpukan sampahnya).

Sumber : Freepik.com

Akan tetapi, pada prakteknya, pemilahan sampah tidak selalu berjalan dengan baik. Pemilahan sampah yang tidak berjalan dengan baik dapat dilandasi oleh berbagai faktor, antara lain, kurangnya edukasi mengenai pemilahan sampah, serta mindset bahwa mengelola sampah domestik dianggap sebagai pekerjaan yang kotor, dan hanya menjadi tanggung jawab petugas sampah –yang selama ini tercitrakan sebagai pekerja kasar dan berpendidikan rendah.

Faktor lain adalah ketidakpedulian masyarakat mengenai kemana sampah domestik mereka akan pergi selepas diangkut. Sosialisasi mengenai pemanfaatan sampah organik sebagai pupuk kompos pun tidak selalu berjalan dengan baik, terutama di daerah perkotaan. Masyarakat perkotaan tidak memiliki motivasi untuk memproduksi kompos mereka sendiri, karena mereka cenderung tidak memanfaatkan kompos tersebut secara konkret, akibat minimnya aktivitas bercocok tanam di lingkungan sekitar.

Pengelolaan Sampah dengan Sentuhan IoT Sebagai Solusi Sekaligus Modernisasi Menuju Zero Waste Cities

Sumber : Freepik.com

Tahun 2021, masyarakat tidak bisa dipisahkan dari smartphone dan internet. Saat ini juga, Era revolusi industri 4.0 sudah bukan lagi menjadi wacana. Salah satu bagian dari era revolusi industri 4.0 adalah Internet of Things atau IoT. IoT sendiri didefinisikan sebagai konsep komputasi dimana benda yang kita pakai sehari-hari dapat terhubung dengan internet. Di era dimana hampir tidak ada tangan yang tidak menggenggam smartphone, gagasan di atas dapat menjadi lebih dari sekadar angan-angan utopis!

Tulisan ini memuat gagasan untuk mengintegrasikan IoT yang futuristik dengan upaya edukasi, pemilahan dan pengelolaan sampah, dengan harapan dapat menggeser stigma masyarakat terhadap pengelolaan sampah yang dianggap kotor dan kasar. 

Sebagai gambaran, bayangkan keluarga Anda memiliki sebuah tempat sampah di dapur. Suatu kali, ketika Anda sedang berselancar di instagram –melihat infotaiment atau mencari resep makan siang– tiba-tiba tempat sampah di dapur Anda mengirim notifikasi bahwa “dirinya” telah terisi sampah sebanyak 80%.

Notifikasi tersebut muncul bersama informasi bahwa petugas sampah akan datang sore ini pukul 16.00.  Notifikasi itu dilanjutkan dengan pengingat untuk memisahkan sampah anorganik, dan organik. Sampah anorganik harus masuk ke bak sampah di luar untuk diangkut petugas, dan yang organik harus dimasukkan ke dalam komposter.

(Fun fact: Tempat sampah Anda dilengkapi sensor ultrasonik yang terpasang di bawah tutup tempat sampah, yang dapat mendeteksi berapa banyak sampah di dalamnya; dan dihubungkan dengan kontroler yang dilengkapi modul wifi untuk menghubungkan datanya ke Aplikasi yang ada di smartphone. Aplikasi dikembangkan secara terpisah oleh tim IT dan masyarakat tinggal memakainya saja.)

Kemudian Anda beranjak dari sofa, mengambil sampah di dapur yang sebelumnya telah Anda pisahkan dengan teliti, dan membawanya ke bak sampah di depan pagar dan ke komposter untuk dibuang. Ketika Anda memasukkan sampah, tanpa Anda ketahui, di dalam bak sampah, ada sensor yang mengkalkulasi berapa kilogram buntalan sampah yang Anda buang.

(Fun fact: Bak sampah utama Anda dilengkapi dengan load cell yang dapat mendeteksi berat; dan dihubungkan dengan kontroler)

Lalu Anda segera mengarahkan QR scanner dari smartphone ke kode QR yang tertera di bak sampah. QR kode itu semacam verifikasi yang menghubungkan Anda dengan bak sampah, sehingga data tipe sampah, volume sampah, dan waktu pembuangan dapat langsung masuk ke smartphone milik Anda saat itu juga.

(Fun fact: QR code bisa juga diganti dengan fitur Near Field Communication/NFC untuk mencegah QR code nya difoto orang lain dan disalahgunakan, namun untuk saat ini, belum semua smartphone punya fitur NFC sehingga QR code menjadi opsi yang lebih universal)

Data tersebut akan muncul dalam bentuk output grafik, bersama-sama dengan data pembuangan sampah dari minggu-minggu dan bulan-bulan sebelumnya, sehingga jumlah sampah yang Anda hasilkan dalam rentang waktu tertentu dapat terus terlacak dan mudah dibaca.

Hasil data ini juga dapat segera dikirim ke server pusat wilayah dan direkam di sana. Datanya terakumulasi bersama data masyarakat lain dalam wilayah tersebut, sehingga pihak pusat dapat memantau volume sampah yang dibuang oleh masyarakat di wilayah tersebut secara real time.

(Fun fact: Pengiriman data ke smartphone Anda dan ke pusat wilayah tidak lagi menggunakan modul wifi, tetapi bisa menggunakan jaringan Narrowband Internet of Things/NB-IoT)

Hasil pantauan ini kemudian dijadikan salah satu acuan pembentukan regulasi sampah oleh pemerintah wilayah, misalnya regulasi mengenai volume maksimal sampah, atau regulasi mengenai diet sampah plastik apabila ada lonjakan volume sampah plastik, juga bisa menjadi acuan dalam pemberian penghargaan kepada wilayah yang dapat mengendalikan laju produksi sampah mereka.

Kemudian, bayangkan saat Anda hendak kembali ke rumah, smartphone Anda mengeluarkan alarm darurat berwarna merah. Ada peringatan bahwa sensor oksigen/sensor lambda yang dipasang di komposter mendeteksi adanya penurunan kadar oksigen dibawah kadar oksigen optimal pembentukan kompos. Anda segera menekan tombol pengadukan untuk melakukan aerasi agar kadar oksigen meningkat, dan kompos Anda akan terbentuk dengan baik.

Sistem sensor suhu, aerasi, pH dan kelembapan di dalam komposter dapat mengirim alarm serupa ke smartphone Anda ketika terjadi penyimpangan kondisi yang tidak seharusnya (Seperti kurangnya Oksigen atau naiknya pH). Sistem ini membantu Anda –yang bahkan tak tahu menahu soal pembuatan kompos– tetap dapat menghasilkan pupuk kompos berkualitas baik, terkontrol, dan layak jual.

Suatu hari, saat kompos Anda telah “matang”, Anda dapat memanggil petugas via aplikasi untuk mengambil kompos tersebut ke rumah Anda, dan menukarnya dengan sejumlah rupiah. Rupiah ini dapat berupa uang fisik, ataupun e-money yang sudah terintegerasi di aplikasi. Petugas kemudian akan mengangkut kompos Anda dan mengomersilkannya sebagai produk unggulan wilayah (tentunya setelah kompos ini dicek mutunya sesuai SNI, dan dikemas dengan apik). Uang yang diberikan kepada Anda adalah insentif, karena Anda telah menjalankan pemilahan sampah dengan baik. Insentif berasal dari sebagian keuntungan komersialisasi pupuk kompos ini.

Kemudian bayangkan, di sudut jalan yang lain, petugas sampah tengah memeriksa GPS di layar smartphone nya yang ditandai dengan titik-titik lokasi tempat sampah berbasis IoT, beserta rute yang harus ditempuh untuk mengumpulkan sampah-sampah tersebut. Ketika si petugas sampai ke bak sampah Anda, petugas tersebut menemukan sisa makanan di dalam bak sampah anorganik. Beliau kemudian melaporkan temuan tersebut dan melampirkan foto bukti ke dalam sistem. Peringatan akan langsung masuk ke smartphone Anda, menyatakan bahwa Anda telah melanggar peraturan pemilahan sampah. Anda akan langsung dikenakan denda. Beberapa fitur aplikasi Anda pun akan dikunci, dan kunci baru dapat dibuka apabila denda telah lunas.

Alur pembuangan sampah (Dokumen pribadi)


 
Alur pengendalian pelanggaran dalam pemilahan (Dokumen pribadi)

Alur pengelolaan kompos (Dokumen pribadi)

 

Bayangkan semua sistem di atas betul-betul ada di lingkungan kita, terintegerasi dengan internet, dan bisa dikontrol dalam genggaman. Mengelola sampah bukan lagi pekerjaan yang jorok, melainkan menjadi upaya penyelamatan planet dengan cara yang modern,  keren dan terkontrol.

Di masa depan, bisa saja gagasan ini dinaikkan ke level yang lebih advanced, misalnya dengan menginovasikan teknologi olah citra dan Artificial Intelligence Embedded System untuk mengenali dan menangani sampah yang tidak terpilah dengan baik; menyematkan sistem pengaman untuk memastikan bahwa sampah tidak akan diambil oleh pemulung; atau mengintegrasikan Aplikasi dengan sistem e-money untuk membayar iuran sampah dan denda sampah secara otomatis.

Apakah IoT dalam Pengelolaan Sampah Over-Engineering?

Implementasi dari gagasan ini memang akan melahirkan tantangan yang sangat besar, antara lain biaya yang tidak sedikit, stok sumber daya manusia –engineer dan pakar IoT– yang tak boleh seret, dedikasi pemerintah yang tinggi dalam mengoptimalkan keberjalanannya, dan juga tantangan untuk menjaga teknologi IoT ini tetap dalam perpetual connection (koneksi yang tak terputus). Begitu besarnya tantangan yang muncul, mungkin tak jarang yang akan mencibir inovasi ini sebagai sesuatu yang over-engineering, atau teknologi sederhana yang terlalu dirumit-rumitkan.

Namun, apabila kita menilik lebih dekat, kesan over-engineering ini menjadi tidak terasa, karena ada buah yang dapat dinikmati di ujungnya. Dengan melihat pengelolaan sampah tradisional yang kadang masih terkendala, serta majunya teknologi, gagasan IoT dalam dunia pengelolaan sampah ini akan mampu memberikan manfaat yang tak kalah signifikan, antara lain:

  1. Memotivasi masyarakat untuk menerapkan pemilahan sampah secara kontinyu dengan jalan memberi notifikasi dan peringatan secara periodik
  2. Menumbuhkan kesadaran pengelolaan sampah kepada anak muda yang sehari-hari berkutat dengan smartphone; karena anak muda biasanya cenderung tertarik pada fitur-fitur baru, futuristik dan menarik dari smartphone mereka
  3. Memudahkan pemerintah memonitor volume sampah di wilayahnya sehingga dapat membuat kebijakan-kebijakan yang sesuai (pemberian himbauan mengenai diet plastik, penerbitan peraturan pembatasan kantong plastik dan penghematan kemasan plastik dll)
  4. Memudahkan pemerintah memonitor pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan masyarakat dalam pengelolaan sampah (tidak memilah, tidak mengurus pembuatan komposnya)
  5. Memudahkan pemerintah untuk memberlakukan konsekuensi yang setimpal bagi para pelanggar dengan lebih tepat-sasaran
  6. Menyediakan beragam media edukasi yang terintegrasi langsung di dalam aplikasi dalam berbagai bentuk, misal artikel berkala untuk edukasi dewasa; dan infografis sederhana untuk edukasi anak-anak.

Jika menilik dari bidang pandang yang lebih luas, gagasan ini akan mampu membuka lapangan kerja seluas-luasnya –terutama apabila telah dikembangkan dengan masif– bagi para ahli perangkat lunak, engineer, teknisi alat, administrator dan costumer care, dan penulis konten di aplikasi. Semuanya bekerja tanpa sedikit pun menggusur posisi pekerja konvensional seperti supir truk sampah, petugas pengumpul sampah, dan petugas pengumpul kompos.

Ide pengelolaan sampah yang disandingkan dengan produksi pupuk kompos komersil yang terpusat –selain memberi tambahan insentif bagi sang penyumbang sampah– juga akan memberikan ruang kerja yang lebih luas bagi para marketer, distributor, reseller, quality control, dan designer produk, dan tentu saja akan berimbas positif kepada petani!

Baik petani tradisional atau pun urban farmer dapat ikut memetik manfaat manisnya. Jika produksi pupuk kompos terpusat ini dikelola dengan baik dan didistribusikan kepada petani-petani di wilayah yang luas, maka akan membuka peluang untuk memajukan pertanian di Indonesia. Sebuah kolaborasi yang luar biasa bukan?

Di masa mendatang, diharapkan gagasan ini tidak hanya membantu membangun partispasi masyarakat dalam zero waste lifestyle –yang berarti menjadi manusia yang bertangung jawab terhadap konsumsinya– namun juga berkontribusi merealisasikan zero waste cities yang smart dan high tech dengan tetap berbasis kemasyarakatan yang menguntungkan.

Jumat, 05 Februari 2021

Bagian 5 : Bagian 5 : Hello Mr.Abdullah! Muslim Sudan yang Baik Hati

 

Kami membayar 1000 yuan untuk menginap selama 4 hari. Itu bukan angka yang kecil, tapi diganjar oleh sebuah tempat perlindungan yang cukup nyaman. Lexuan Yout Apartemen, Gedung A lantai 5, adalah apartemen yang sangat nyaman. Satu kamar berisi 6-8 kasur bertingkat, dengan berbagai macam penghuni. Ada om-om yang berkeliaran tanpa pakaian (ya! Dia cuma memakai kolor), ada om-om ubanan yang pendiam, ada mbak-mbak China bercelana mini yang bertampang judes dan memakai headphone sepanjang hari. Ada juga tante-tante cantik asal Mongolia yang bersuara kalem. Lalu, hari berikutnya, kami jadi tahu kalau di Apartemen ini juga ada dua orang Bule.

            Miss Adela yang ramah dan baik hati membantu kami menyiapkan tempat tidur. Segera setelah kasur ditata, aku segera tidur tanpa banyak bicara. Kami semua tidur, menghimpun energi yang banyak menguap selama menggelandang. Hawa dingin AC dan kasur yang empuk membuatku cepat terlelap sampai sore hari.

            Masalah pertama kami di China adalah, kami tidak tahu arah kiblat untuk Sholat. Dari beberapa travel blog, aku mendapat info kalau di China, kiblat menghadap ke Barat. Saat kami sudah sholat menghadap ke Barat, Ragil menginfokan bahwa ada seorang muslim di Apartemen ini, yang Sholat menghadap ke Timur. Dia seorang bapak-bapak berkulit hitam yang ternyata menempati di kamar sebelah.

Kami tidak tahu siapa bapak-bapak muslim ini, sampai tiba-tiba, saat kami semua sedang memasak indomi di dapur untuk makan malam, ada seseorang yang membuka pintu geser dapur.

Seorang laki-laki tinggi gagah dan berwajah Negroid muncul dan menyapa dengan suara berat. “Assalamualaikum!”

“Waalaikumssalam,” Aku, Inay dan Anis menjawab spontan.

“Do you speak English?” dia bertanya.

“Yes, we speak English, sir,” jawabku.

“So. You`re muslim? Where are you from?”

“Yes, sir, we`re from Indonesia.”

Dia tersenyum saat melihat kami merebus Indomi, lalu bercerita, memang sulit mencari makanan halal di China. Kalian tidak bisa sembarang membeli makanan di sekitar sini, katanya. Kami bicara banyak hal sampai akhirnya dia memberitahu, kalau kami ingin mencari makanan halal di Guangzhou, kami harus naik kereta Jalur 5 ke arah stasiun Xiaobei, atau kami harus membeli ayam hidup-hidup untuk disembelih sendiri.

Kami tertawa atas candaan bapak-bapak itu. Dia sangat perhatian pada kami, menanyakan banyak hal tentang acara kami di sini, dan merekomendasikan kami untuk pergi ke Xiaobei. Xiaobei adalah kampung muslim di sini, tempat itu dipenuhi restoran halal yang dikelola orang-orang Turki, Pakistan, Arab dan Malaysia.

Bapak-Bapak ini sendiri, setelah kami berkenalan, ternyata bernama Abdullah, asalnya dari Sudan, Afrika. Dia datang ke China untuk urusan bisnis. Mr.Abdullah ini sangat ramah dan banyak memberi kami tips untuk bertahan hidup. Dia membantu kami menemukan rute kereta ke Foshan, dan dia juga yang memberitahu kami bahwa stasiun terdekat dari Apartemen ini adalah stasiun Washengwei. Jadi kalau kami mau kemana-mana, tinggal mengikuti jalur kereta menuju Washengwei, maka kami akan tiba di kompleks Apartemen ini.

Mr. Abdullah juga mencoba mentransfer aplikasi VPN ke hp ku, dan menyarankan kami untuk mendownload VPN karena di negara China yang semua websitenya serba diblokir, VPN menjadi satu-satunya penyelamat. Kami banyak bercerita dalam bahasa Inggris sampai larut malam.

Menemukan muslim di negara ini adalah suatu keajaiban. Kami bersyukur, di Apartemen yang luar biasa ini, kami bertemu dengan orang seperti Mr. Abdullah yang peduli dan menyenangkan.

Sesekali kami mendengar Mr. Abdullah bertelfon, dan bicara dalam bahasa Arab.

Lalu kami, anak-anak Indonesia, mencandainya, “Buset, denger dia telpon berasa didoa-doain bro!”

Wajah ramah pengembara dari beragam penjuru dunia mulai nampak. Mbak-mbak bertampang sengit yang biasa duduk di pojok ruang tamu pun banyak membantuku bersama Mr. Abdullah. Kami duduk di ruang tamu bertiga, berbagi beragam cerita.

Di balik cerahnya sire itu, ternyata ada bencana bertubi mengintai kami.

120 jam menuju Taifun Mangkhut

From the Floor of the Wood

 


From the floor of the woods, a glance of flap attract the youngest’s focus. His eyes shifted from lenses to branches, seeing the mustard colored wingtip among viridescent crowd above. It’s there! A mesmerizing songbird that wonder him with its high-pitch yet melodious chirps since this morning, igniting such an inexplicable interest. That is Serinus canaria –fancy name given by random taxonomist out there, but he prefers call it wild canary– perching on the branches, chirp marvelously –sing to entice. It’s seems like a mating season for its species.

The youngest raised his binocular, spots its little talon that rhythmically hoping from one twig to another. His mind is now full of wonder, how come this little guy manage to surviving his life in this woods? This wild canary is so damn lucky! Because as the youngest knew, although canary’s conservation status stays still in Least Concern point, but their presence in wild is shifted far to the lower one. Vulnerable, or Threatened, and about to be Extinct in Wild if they continuously caged to fulfill human greed who want to wholly posses their very own chirp from their porch.

As the curiosity drag the youngest farther, his feet buried among bushes. His medium-heigh body is faded among greens in no time. His left hand grabs the stem of binocular, keep it stably hanging on his neck, while his right hand keep unveils gigantic sporous leaves of ferns around. He follows the chirps, wishing to see more from the tip of his ocular.

Songbird have never driven his curiosity this far, specially because he lives in the jungle of concretes all time, where songbird only found in such a jail-cage, build just for the forgotten descendant of dinosaurs. This wild canary is total upgrade of the dying one the youngest found in the cage! He felt energizing, like an ornithologist, people who chasing bird in wild for some photograph, scientific info, and self excitement additional bonus.

Steps after, that tiny Passeriformes flees. It hovers between twigs and disappear with no word to the youngest. He raised the binocular, try to spot in which way the little canary flapped away, and initiate to chase it. He pierces the shrubs and gigantic ferns madly, refuse to lost the tracks. His binocular swings, nearly risking its strap to broke. Soon, the youngest reach the rim of the valley. He stops his self forcibly on the very edge of precipitous declines, noticing that terrain ahead covered by bushes and tendrils which neatly conceals multiple dangerous spots. Once the youngest stride to the wrong step, his body will surely dragged-down by the gravity. He could die with broken ribs between unseen stony surface down there.

The canary is perched in unfamiliar tree across –the youngest still peeks it from his binocular. The maneuver of its yellowish wings is still pretty stand out between leaves. The canary is chirping, then soaring away, maybe to its cozy nest, or to feeding ground somewhere to grab some morning munch. Untouchable valley seems a goodbye for the youngest and the melodious chirp owner. This place is geographically unfriendly for bird’s paparazzi!

He may can’t remember in which tree that tiny canary perched, but he remembers, no one ever care about free living ones. Even for an ornithologist, Hornbills and Orioles always all way more tempting for their lenses, while canary and its mustardy quill, otherwise, always missed. This one only gorgeous enough when they possessed by smartest yet greediest conqueror of live being in whole planet – Homo.

Another flap attracts the youngest’s attention almost instantaneously right after he lost the canary. The youngest raises his binocular, gazing in amazement to a broad wing of hawk that swiftly crosses the canopy. Seems it has aimed a little rodent beneath that crawling in terror. Its beautiful hooklike beak ready to shred every rodent in the world into pieces, leave only a flake of marrows. But the youngest can’t heeds it for a long time. The hawk hovered away to the other side of valley, leaving the youngest with empty field of view within his lenses.

As the youngest hanging his binocular down, he steps back, ready to leave, piercing leaves and twigs to where he came from. In his way tracking the narrow grassy footpath, he gazing back the whole landscape of the valley, take a breath for awhile. Afar the youngest can see, from the tip of quilling tendril on the ground till the peak of towering canopy atop, is viridescent. Not just any viridescent, but the dreamy one. Like the prefect mate of a pixy green, and a quietness. The one that never witnessed by people who live amid concretes.

Ceruleans peeks timidly among foliage crevices, right on the place where sheer pillar of sun kisses floor, sunlit lepidopterans and beetles that silently foraged around. The youngest can even see greenish air made of the shadow of lushy foliage and jadish lichens tethered to dull barks. While wind puffing around with low decibel whisper, bring addicting restful nuances.

Then the youngest perceives that it’s not only the canary, but the whole ecosystem is forgotten. Bushy woods is the last place human would visit. Shrubbery greens is a threat for human skin, not mentioned a poisonous leaves and bugs –their tiny jaw surely injects venom that will drive human’s immune system crazy. Concretes is more tempting, just like how ornithologist tend to love Hornbill and Orioles more, or how the youngest himself distracted instantly by the majestic raptor that hunting around just because it looks more promising to satisfy his curiosity more than the tiny canary.

In the quiet air, the youngest steps forward, then turn his head around, seeing the rest of the woods, little bit uneasy to leave this mesmerizing greens. But the chirp is muted, and the wind terminate its flow. Sun rose higher, and the youngest know he can’t be here forever. People said serpents starts to hunting in these hours, and he not willing risking his legs to bite. He grabs his binocular, and stride toward where he come.