marquee

WELCOME TO MY BLOG, FRIENDS!

Laman

Jumat, 05 Februari 2021

From the Floor of the Wood

 


From the floor of the woods, a glance of flap attract the youngest’s focus. His eyes shifted from lenses to branches, seeing the mustard colored wingtip among viridescent crowd above. It’s there! A mesmerizing songbird that wonder him with its high-pitch yet melodious chirps since this morning, igniting such an inexplicable interest. That is Serinus canaria –fancy name given by random taxonomist out there, but he prefers call it wild canary– perching on the branches, chirp marvelously –sing to entice. It’s seems like a mating season for its species.

The youngest raised his binocular, spots its little talon that rhythmically hoping from one twig to another. His mind is now full of wonder, how come this little guy manage to surviving his life in this woods? This wild canary is so damn lucky! Because as the youngest knew, although canary’s conservation status stays still in Least Concern point, but their presence in wild is shifted far to the lower one. Vulnerable, or Threatened, and about to be Extinct in Wild if they continuously caged to fulfill human greed who want to wholly posses their very own chirp from their porch.

As the curiosity drag the youngest farther, his feet buried among bushes. His medium-heigh body is faded among greens in no time. His left hand grabs the stem of binocular, keep it stably hanging on his neck, while his right hand keep unveils gigantic sporous leaves of ferns around. He follows the chirps, wishing to see more from the tip of his ocular.

Songbird have never driven his curiosity this far, specially because he lives in the jungle of concretes all time, where songbird only found in such a jail-cage, build just for the forgotten descendant of dinosaurs. This wild canary is total upgrade of the dying one the youngest found in the cage! He felt energizing, like an ornithologist, people who chasing bird in wild for some photograph, scientific info, and self excitement additional bonus.

Steps after, that tiny Passeriformes flees. It hovers between twigs and disappear with no word to the youngest. He raised the binocular, try to spot in which way the little canary flapped away, and initiate to chase it. He pierces the shrubs and gigantic ferns madly, refuse to lost the tracks. His binocular swings, nearly risking its strap to broke. Soon, the youngest reach the rim of the valley. He stops his self forcibly on the very edge of precipitous declines, noticing that terrain ahead covered by bushes and tendrils which neatly conceals multiple dangerous spots. Once the youngest stride to the wrong step, his body will surely dragged-down by the gravity. He could die with broken ribs between unseen stony surface down there.

The canary is perched in unfamiliar tree across –the youngest still peeks it from his binocular. The maneuver of its yellowish wings is still pretty stand out between leaves. The canary is chirping, then soaring away, maybe to its cozy nest, or to feeding ground somewhere to grab some morning munch. Untouchable valley seems a goodbye for the youngest and the melodious chirp owner. This place is geographically unfriendly for bird’s paparazzi!

He may can’t remember in which tree that tiny canary perched, but he remembers, no one ever care about free living ones. Even for an ornithologist, Hornbills and Orioles always all way more tempting for their lenses, while canary and its mustardy quill, otherwise, always missed. This one only gorgeous enough when they possessed by smartest yet greediest conqueror of live being in whole planet – Homo.

Another flap attracts the youngest’s attention almost instantaneously right after he lost the canary. The youngest raises his binocular, gazing in amazement to a broad wing of hawk that swiftly crosses the canopy. Seems it has aimed a little rodent beneath that crawling in terror. Its beautiful hooklike beak ready to shred every rodent in the world into pieces, leave only a flake of marrows. But the youngest can’t heeds it for a long time. The hawk hovered away to the other side of valley, leaving the youngest with empty field of view within his lenses.

As the youngest hanging his binocular down, he steps back, ready to leave, piercing leaves and twigs to where he came from. In his way tracking the narrow grassy footpath, he gazing back the whole landscape of the valley, take a breath for awhile. Afar the youngest can see, from the tip of quilling tendril on the ground till the peak of towering canopy atop, is viridescent. Not just any viridescent, but the dreamy one. Like the prefect mate of a pixy green, and a quietness. The one that never witnessed by people who live amid concretes.

Ceruleans peeks timidly among foliage crevices, right on the place where sheer pillar of sun kisses floor, sunlit lepidopterans and beetles that silently foraged around. The youngest can even see greenish air made of the shadow of lushy foliage and jadish lichens tethered to dull barks. While wind puffing around with low decibel whisper, bring addicting restful nuances.

Then the youngest perceives that it’s not only the canary, but the whole ecosystem is forgotten. Bushy woods is the last place human would visit. Shrubbery greens is a threat for human skin, not mentioned a poisonous leaves and bugs –their tiny jaw surely injects venom that will drive human’s immune system crazy. Concretes is more tempting, just like how ornithologist tend to love Hornbill and Orioles more, or how the youngest himself distracted instantly by the majestic raptor that hunting around just because it looks more promising to satisfy his curiosity more than the tiny canary.

In the quiet air, the youngest steps forward, then turn his head around, seeing the rest of the woods, little bit uneasy to leave this mesmerizing greens. But the chirp is muted, and the wind terminate its flow. Sun rose higher, and the youngest know he can’t be here forever. People said serpents starts to hunting in these hours, and he not willing risking his legs to bite. He grabs his binocular, and stride toward where he come.

Kamis, 29 November 2018

Bagian 4 : Ada Malaikat Berbahasa Indonesia di China


Tiyu Xilu hanyalah sebuah nama. Kamu tak membayangkan apa yang akan menanti di sana, yang kami tahu, kami hanya harus menuju ke sana. Kami masuk ke dalam kereta bawah tanah bersama ratusan penduduk pribumi lainnya. Kereta bawah tanah China sama parah dengan KRL rute Bogor-Manggarai! Kereta ini lebih mirip stoples nastar lebaran yang diisi manusia-manusia bernyawa.
Berjejal di kereta bukan sesuatu yang kami harapkan di sini, tetapi mau tak mau harus kami jalani. Setelah beberapa stasiun terlewati, akhirnya kami tiba di stasiun tujuan : Tiyu Xilu. Lalu muncullah masalah baru buat kami yang baru pertamakali pergi ke sini, kami tak tahu bahwa tiap stasiun punya pintu keluar yang berbeda-beda. Dan tiba-tiba, tiket kami tidak terbaca mesin scan!
“Mampus! Mampus bego, ini kenapa?” Aku memaki-maki.
Kebodohan kami pertamakali adalah, kami sudah membeli kartu kereta tapi tidak tahu bagaimana cara memakainya, jadi kami terpaksa membeli tiket koinan, dan ternyata tiket koinan kami bermasalah sehingga kami tidak bisa keluar dari stasiun!
Kami berlima panik seketika dan mulai mencari pertolongan. Sialnya, petugas stasiun tidak ada yang bisa berbahasa inggris! Aku memaki lagi. Kami berputar-putar lama sekali, mencari petugas yang minimal bisa mengerti frasa ini : PAK GIMANA CARANYA KELUAR DARI SINI?
Nihil.
China yang merupakan negara besar dunia benar-benar gagal mencetak rakyat sipil yang terampil berbahasa!
Di tengah putus asa, aku mendekati seorang petugas tambun di dekat pintu keluar dan memaksa dia bicara bahasa inggris. Dia menggeleng, dan berkata terbata dalam aksen China, “No-inggeris! No-inggeris!”
Tepat pada saat itu, seorang pemuda lokal melintas dan menepuk bahuku pelan.
“Can I help you?” katanya. Dialah orang asing yang jadi malaikat pertama kami. Definisi malaikat penyelamat di sini menjadi teramat sederhana: orang lokal yang mampu berbahasa inggris. Aku menceritakan duduk perkara secara singkat, dan pemuda tak dikenal itu mengarahkan kami ke pusat informasi stasiun.
Pusat informasi stasiun berupa ruang kaca yang diisi seorang petugas kurus. Dia berbicara dengan orang-orang di luar dengan menggunakan mikrofon dan pengeras suara ke luar, sebuah sistem yang membuat petugas dan pengunjung bisa bercakap tanpa diganggu suara hiruk pikuk stasiun. Sialnya, si petugas pusat informasi juga tidak bisa berbahasa Inggris. Dia terpaksa turun dari ruang kaca itu dan mencari petugas lain yang bisa membantu kami berkomunikasi.
Agak lama kemudian, dia datang membawa petugas perempuan yang ternyata bisa berbahasa Inggris. Dia membantu kami mengurus tiket koinan kami, dan kami diminta membayar sejumlah uang yang tak banyak. Sungguh mulia sistem transportasi China dibandingkan dengan di Tembalang! Ongkosnya sangat murah dan terjangkau. Setelah nyaris satu jam terjebak di dalam stasiun pun akhirnya kami bisa keluar dari stasiun Tiyu Xilu.
Keluar dari stasiun, kami bertemu dengan jalan besar. Trotoarnya lebar dan rapi, seperti trotoar Jalan Pemuda Semarang. Di sini lah kami benar-benar berjumpa dengan wajah kota yang sesungguhnya.
China sangat teratur.
Gedungnya serba pencakar langit, dan aspalnya dibangun dengan sangat halus. Trotoarnya ramah bagi pejalan. Rakyatnya banyak mengendarai sepeda listrik. Sepeda motor hanya dipakai oleh polisi, dan ada banyak sekali pegawai berseragam pergi dengan berjalan kaki.
“Terus kita kemana?” tanyaku. Semua kawanku menggeleng. Akhirnya, berbekal insting, kami menyusuri trotoar dan berjalan jauuuuuhhhh sekali. Sol sepatuku tergerus dan telapak kakiku sudah mulai nyeri.
Sepatu yang baru dibelikan Ibuku di Jakarta rusak. Bagian dasarnya tidak kuat diajak berjalan jauh, sehingga bagian dalam solnya yang bergerigi menonjol keluar. Telapak kakiku terluka sampai aku tidak tahan berjalan lagi. Akhirnya, sambil duduk di dekat tempat parkir, aku melepas sepatu lalu terpaksa melemparnya ke kotak sampah terdekat.
Inay dan Anis mencoba mencari taksi. Kami tak tahu bagaimana caranya mencegat taksi di sini. Apakah kamu bisa mencegatnya langsung? Atau harus pergi ke pool taksi? Atau harus memesannya secara online terlebih dahulu? Kami tak tahu. Orang-orang yang kami temui pun tak ada yang bisa berbahasa inggris.
Kelaparan, kehausan, kepanasan dan luka-luka membuat kami benar-benar mirip gelandangan. Tapi di tengah sengsara ini, kami masih sempat melempar canda dan tertawa bersama. “Kapan lagi kita bisa jadi gembel di Guangzhou?!”
“Jadi gelandangan tapi gelandangan elit, soalnya di China!”
Tiba-tiba, di dekat sebuah Gedung yang sepertinya sedang mengadakan sebuah acara besar, kami bertemu dengan seorang pria. Dia malaikat yang kedua. Bahasa inggrisnya terbata, tetapi dia bisa memahami situasi kami. Kami menanyakan alamat apartemen kami, yakni Lexuan Youth Apartemen di Haizu District. Dia tidak bisa menjawab dimana letak pastinya, tapi dia menuliskan alamat ini dengan tulisan kanji dan merekomendasikan kami memperlihatkan tulisan ini ke sopir taksi setempat.
Tulisan kanji cakar ayam ini menjadi modal utama kami berlima untuk lepas dari gelar gelandangan. Aku segera bersemangat dan cepat-cepat mengganti sepatu. Saat kakiku membaik, aku segera menyeret koper menyusuri trotoar lagi ke arah darimana kami datang tadi. Konyol memang, kenapa kami berjalan jauuuuuhhh sekali tapi kemudian berbalik lagi. Tapi firasatku membaik saat aku menyeret koper ke arah itu.
Langkahku terlalu cepat sampai teman-teman yang lain tertinggal.
Hanya Andi yang bisa berlari menyusulku dan mengingatkanku untuk bisa menunggu. “Mbak, mbok pelan-pelan to!” katanya, “Mbak nek ilang piye?”
Di daratan China, rasanya rindu sekali tanah Jawa.
Tanah tempat bisa bercakap tanpa hambat. Di sini, jangankan bercakap, sekedar menyapa saja sulitnya luar bisa. Aku duduk di pinggir trotoar bersama Andi, sekedar meluruskan kaki sambil menunggu kawan-kawan yang lain sampai di sini.
Sambil menonton Andi mengambil foto-foto Gedung, mataku berkeliling, dan aku melihat malaikat nomor tiga. Malaikat bisu berwujud logo M raksasa warna kuning. “Temen-temen!” aku berteriak pada Andi, Ragil, Inay dan Anis, “ADA MCDONALD!”
Rasa lapar membuat kami menyerbu McDonald, dan memesan bubur telur. Beruntung, petugas McD bisa berbahasa Inggris dan mengerti keadaan kami yang tidak boleh makan sembarang daging. Halal-haramnya makanan memang jadi isu nomor satu turis muslim di seluruh dunia. Bubur McD adalah opsi paling aman karena dagingnya hanya sedikit dan gampang disingkirkan.
            Bubur McD Guangzhou bertekstur sangat encer, nyaris cair! Aku yang di Indonesia bukan penggemar bubur pun mendadak kangen bubur kinco manis pinggir jalan gara-gara melihat bubur di China yang menyedihkan. Bau telur bebeknya menyengat sampai ubun-ubun, siap membuat orang non-China muntah seketika! Beruntung, tidak satu pun dari kami yang muntah.
Di samping bubur, ada semacam potongan gorengan. Saat kucicip, rasanya seperti ketela yang dihaluskan lalu digoreng dengan panir. Aku tidak yakin ini ketela, karena teksturnya lunak tapi menyerpih. Mungkin ini sejenis umbi-umbian lokal. Untuk minuman, kami mengambil air putih dingin, dua botol dibagi berlima.
Kami duduk di McD sekitar setengah jam, lalu memutuskan keluar dan mulai mencari taksi. Saat kami meminggirkan diri di bawah pohon di trotoar, tiba-tiba datang malaikat yang keempat. Tuhan mengirim orang asing itu sebagai penolong yang mengakhiri sesi penggelandangan kami.
Dia pria muda yang tegap dan berkaos hitam ketat. Dia juga memakan kacamata hitam. “Hei! Hei!” katanya sambil mendekati kami, lalu dia menunjuk kami dan bicara dalam bahasanya. Kami tak paham.
Dia terus menunjuk kami sambil menyebutkan nama-nama negara muslim. Oh, rupanya dia menanyakan darimana kami berasal.
“Indonesia,” jawab kami.
“Ah! Indonesia! Emm… Selamat pagi?” katanya. Kami terkejut mendengar dia berbahasa Indonesia. Aksen Chinanya masih terasa, dan aku merasaucapannya sedikit dipaksa.
“Selamat pagi? Terimakasih? Terimakasih?” ucapnya acak. Kami hanya tertawa canggung, lalu mencoba menanyainya perihal taksi. Tepat pada saat itu, dia menunjuk mobil biru yang melintas yang ternyata adalah taksi lokal!
Kami mencegat taksi itu tepat waktu sebelum kemudian berterimakasih berkali-kali pada orang China aneh itu. Di balik ucapan acaknya yang tak jelas, dia membantu kami menemukan apa yang kami cari, taksi. Alamat apartemen yang sudah ditulis dalam kanji itu segera diberikan kepada pak sopir.
Awalnya sopir itu tak mau mengantar kami karena kami berlima karena kapasitas maksimal taksi 4 orang. Kami terus memohon -we can`t be separated! Dia tidak paham bahasa inggris dan kami terus memaksa. Akhirnya pak sopir setengah baya itu sepakat mengangkut kami berlima setelah menunjukkan angka 1000 di kalkulator. 1000 yuan untuk naik taksi berlima! Karena tidak ada pilihan, akhirnya kami mengangguk.
Jarak Tiyu Xilu sampai apartemen lumayan jauh. Kami sempat melihat Canton Tower dari kejauhan, dan lanskap kota berpencakar langit yang elok. Kecantikan China tak dipudarkan oleh cat interior kotanya yang serba abu-abu. Kami melintasi jalan raya lebar dan mulus menuju sudut Guangzhou yang tak kami tahu : distrik Haizu.
Sopir taksi yang mendadak baik hati setelah dijanjikan 1000 yuan itu memutari distrik demi mencarikan kami alamat Lexuan Yout Apartemen, hingga akhirnya tibalah kami di sebuah kompleks apartemen yang menurut kami cukup elit. Si sopir membantu kami berkomunikasi dengan petugas sekuriti setempat, dan para sekuriti berseragam hitam itu membersilakan kami duduk di bangku terdekat.
Kompleks apartemen ini mengingatkanku pada perumahan mewah ibukota, tapi versi vertikal. Ada tak kurang dari sepuluh Apartemen pencakar langit dibangun melingkari sebuah Kawasan taman yang ditata luar biasa indah. Pohon-pohon mengawal jalan setapak berpaving yang meliuk-liuk, mengelilingi sebuah kolam renang jernih. Di sudut-sudut, terbangun fasilitas lapangan tenis dan lapangan basket, ada juga lapangan yang diisi wahana bermain anak-anak.
Bangku-bangku taman di sini pun terbuat dari marmer bersih. Sejumlah penghuni kompleks berkeliaran dengan menuntun anjing-anjing mereka yang beraneka ras. dan tempat ini juga dikelilingi empat gerbang. Masing-masing gerbang dijaga ketat oleh petugas sekuriti, dan semua penghuni apartemen mempunyai satu kartu pintu. Untuk membuka gerbang, kartu itu harus di-scan terlebih dahulu di sensor khusus yang dipasang.
Kecanggihan seperti ini belum pernah kami jumpai di Tembalang. Kami berlima memuji keindahan kompleks, sampai kemudian datanglah wanita cantik berdaster hitam. Dia telah berumur, tetapi masih terlihat muda dan jelita. Itu adalah kali pertama kami berjumpa dengan Miss Adela Zhou, ibu kos terbaik di dunia! Dengan hadirnya Miss Adela, maka masa kami menjadi gelandangan internasional pun resmi berakhir!
Tak terpikirkan sedetikpun bahwa Distrik Haizu yang indah dan damai ini sebentar lagi akan hancur ditelan angin. 135 jam menuju puncak Taifun Mangkhut yang mengancam nyawa!